Sistem Pernapasan Manusia #1
Materi kelas 11 semester 2. Sistem Pernapasan Manusia. Membahas struktur dan fungsi organ, serta mekanisme pernapasan pada manusia.
Assalamualaikum, apa kabar Bioranger? Seiring waktu berjalan bfl sudah sampai di artikel ke-5. Ya memang baru sedikit sih, ternyata agak sulit juga untuk memulai menulis blog baru. Oh iya, untuk Bioranger yang belum tahu, bflid.com adalah situs baru untuk menggantikan blog bfl yang lama yaitu biofunlearning.blogspot.com.
Pentingnya bernapas membuat semua orang berupaya semaksimal mungking untuk dapat bernapas meskipun harus memakai alat bantu
Baik, kali ini bfl akan membahas sebuah sistem yang sangat vital bagi manusia, yaitu Sistem Pernapasan. Bioranger sudah paham kan berapa pentingnya pernapasan itu bagi kita makhluk hidup? Ya, bernapas adalah upaya kita untuk mendapatkan oksigen yang diperlukan dalam proses pembakaran energi. Tuh, kan pasti sangat vital peran dari sistem yang satu ini. Ayo coba deh Bioranger ambil napas yang dalam perlahan-lahan, rasakan setiap udara yang mengisi paru-paru Bioranger semua. Nikmat, 'kan?
Bagaimana cara udara tersebut dapat masuk ke paru-paru kita, dan saluran apa saja yang dilewati oleh udara hingga tiba di paru, lalu bagaimana udara tersebut bisa masuk ke sistem internal tubuh kita? Nah, mungkin kali ini bfl bahas organ-organnya saja dulu, ya Bioranger. Yuk, ikuti pembahasannya.
Organ Pernapasan
Organ pernapasan bertanggung jawab dalam memastikan udara masuk ke paru-paru secara kontinu dan sukarela (tanpa intervensi kesadaran). Selain itu, kualitas udara yang sedemikian rupa dibuat 'terstandar' dengan adanya perlakuan khusus pada bagian tertentu di organ pernapasan.
1. Rongga Hidung
Udara tidak hanya dapat masuk melalui lubang hidung, tetapi juga dapat melewati rongga mulut, namun kebutuhan akan udara yang 'terstandar' itulah yang menjadikan rongga hidung tempat paling baik bagi masuknya udara. Keberadaan rambut hidung sebagai barier fisik untuk menyaring debu atau partikel besar lainnya adalah hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh rongga mulut.
Selain itu, adanya ujung-ujung saraf olfaktori (penciuman) yang mampu mengenali bau yang terbawa bersama udara merupakan sensor keselamatan yang ampuh. Tentunya kita tidak akan betah di ruangan yang bau lalu memutuskan untuk pergi adalah contoh bagaimana indra penciuman ini menyelematkan kita hanya jika kita menghirup udara melalui hidung.
Selaput lendir yang lembab dan hangat membantu menyesuaikan udara yang masuk dengan suhu dan kelembaban tubuh. Tentunya ini akan sangat menolong untuk mengurangi dampak akibat udara yang terlalu kering sehingga tidak menggores atau melukai saluran dalam yang lebih halus. Kita bisa membuktikan dengan memasukkan udara melalui mulut dan mendapati bahwa udara yang masuk lebih dingin dan kering dibandingkan jika kita memasukkannya melalui hidung.
2. Tenggorokan
Kemana udara selanjutnya? Udara selanjutnya masuk ke faring, yaitu daerah pertemuan antara saluran pernapasan dan pencernaan. Nah, di sini persimpangan antara saluran pencernaan dan pernapasan tidak membuat aliran udara menjadi salah, udara akan tetap masuk ke paru-paru, bukan ke lambung.
Meskipun saluran pernapasan dan pencernaan memiliki daerah pangkal yang sama, sebuah fitur penting dimiliki oleh tenggorokan untuk memisahkan jalur keduanya. Epiglotis adalah kartilago (tulang rawan) elastis yang terletak di bagian atas tenggorokan (laring) yang senantiasa terbuka untuk melewatkan udara. Pada periode penelanan makanan, epiglotis akan tertutup sehingga meminimalisir butiran makanan masuk ke saluran pernapasan.
Turun sedikit dari epiglotis, kita akan menemukan pita suara yang merupakan membran kartilage yang lentur dan bergetar saat udara melewatinya. Dari getaran itulah suara di tenggorokan kita dibuat. Pada laki-laki, pertumbuhan jakun (rawan pelindung tenggorokan) mengurangi elastisitas pita suara sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih kasar dan berat.
Tenggorokan yang lebih dalam dikenal dengan istilah trakea. Trakea merujuk pada rawan hialin yang berbentuk C yang tersusun melindungi bagian ini. Bentuk rawan C seperti ini berguna untuk fleksibilitas saat ada makanan melewati kerongkongan yang sempit, trakea mendesak sebagian ruangnya untuk pembesaran kerongkongan.
Dinding trakea sebelah dalam dilapisi oleh epitel bersilia yang berperan aktif dalam penyapuan partikel kecil yang masuk bersama udara. Terkadang gerakan menyapu yang terlalu besar menghasilkan rasa gatal pada trakea dan memicu terjadinya batuk. Dinding ini juga lembab sehingga mampu mempengaruhi suhu udara yang melewatinya.
3. Bronkus dan Bronkiolus
Trakea paling bawah bercabang dua, masing-masing ke bilah kanan dan kiri paru-paru. Kemudian cabang ini bercabang-cabang lagi menjadi lebih kecil dan tersebar. Percabangan semacam ini disebut Bronkus. Struktur bronkus sama dengan trakea namun dengan kepadatan yang jarang. Model semacam ini memungkinkan udara terdistribusi ke seluruh permukaan dalam paru-paru.
Bronkus bercabang secara tidak merata antara bilah kanan dan kiri paru-paru, dimana bronkus pada bilah kanan lebih pendek dan tinggi dibandingkan dengan bilah kiri. Hal ini kemungkinan dikarenakan bilah kanan lebih besar sehingga percabangan harus dibuat sebanyak mungkin.
Percabangan bronkus yang paling akhir (ujung sekali) disebut dengan bronkiolus. Bronkiolus lebih tipis, bahkan bagian paling tipisnya dapat digunakan untuk pertukaran gas. Di sepanjang bronkiolus inilah bola-bola tipis yang dikenal dengan Alveolus bersemayam.
4. Alveolus
Bola-bola alveolus dibentuk oleh epitel pipih selapis yang tipis dan sangat permeabel dengan molekul berbentuk gas, terutama Oksigen dan Karbondioksida. Bola-bola ini tetap mengembang karena alveolus secara aktif mensekresikan surfaktan. Dari luar alveolus tampak seperti anggur, dan dari dalam tampak seperti sarang-sarang semut.
Permukaan luar alveolus berintegrasi dengan kapiler darah sebagai perangkat pertukaran gas dari dan ke dalam aliran darah. integrasi seperti ini yang menjadikan pertukaran gas di alveolus berjalan dengan cepat. Permukaan dalamnya yang lembab memungkinkan difusi udara lebih stabil. Dengan struktur yang tipis dan permukaan dalam lembab seperti ini justru membuat alveolus menjadi cukup rentan terhadap infeksi benda asing. Oleh karena itu, melakukan aktivitas yang meningkatkan kerentanan alveolus, seperti merokok, sangat tidak dianjurkan.
Namun, alveolus cukup aman jika dilihat dari sisi terluarnya. Selaput pleura yang membungkus semua komponen paru-paru (bronkus, bronkiolus, dan alveolus) menjadi pembatas sekaligus melindungi bagian dalam dari gesekan dengan rusuk dan infeksi.
Nah, itulah organ-organ yang membangun sistem pernapasan kita, Bioranger. Kalau kita urutkan dari luar ke dalam maka menjadi seperti berikut:
- Rongga hidung
- Faring
- Laring
- Trakea
- Bronkus
- Bronkiolus
- Alveolus
Yap, itulah pembahasan tentang organ pernapasan. Ternyata banyak sekali hal menakjubkan yang organ pernapasan kita miliki. Spesifikasi dan kesesuaian dengan fungsi adalah hal yang paling menarik menurut bfl, ya 'kan? Ya bagaimana tidak, tubuh manusia sudah sangat teratur dan kita baru melihat organ pernapasannya saja, belum mekanismenya lho..
Begitulah ciptaan Tuhan, sangat terukur dan efisien. Maka wajar saja kita harus banyak-banyak bersyukur ya Bioranger.
Baiklah, itu dulu pembahasan tentang Sistem Pernapasan bagian 1 ini. Nantikan pembahasan lanjutannya di artikel berikutnya ya. Sampai Jumpa....
Posting Komentar untuk "Sistem Pernapasan Manusia #1"